Pendahuluan - Apa itu 'Aqeedah? العقيدة
'Aqeedah (عقيدة, "ikatan/keyakinan") adalah fondasi keimanan seorang Muslim - apa yang diyakini hati tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan cara beribadah kepada-Nya. Aqeedah 101 mempelajari Tawhid (mengesakan Allah) sebagai inti dakwah seluruh Nabi, serta berbagai bentuk syirik (menyekutukan Allah) yang harus dijauhi.
Sumber Utama Mata Kuliah
| Sumber | Penulis | Fokus |
|---|---|---|
| The Fundamentals of Tawheed | Dr. Abu Ameenah Bilal Philips | Kategori Tawhid, syirik, ketinggian Allah, penyimpangan sekte (Mu'tazilah, Asy'ariyyah, sufi) |
| Kitaab at-Tawheed | Syaikh Muhammad ibn 'Abdul-Wahhab (komentar: Bilal Philips) | 14 bab klasik tentang pemurnian Tawhid & bentuk-bentuk syirik praktis |
Tiga Kategori Tawhid أقسام التوحيد
Ulama membagi Tawhid menjadi tiga kategori agar mudah dipahami dan diajarkan - pembagian ini pertama kali disistematisasi oleh Ibn Taymiyyah, meskipun konsepnya sudah ada sejak generasi salaf.
1. Tawhid ar-Ruboobiyyah
Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya: sebagai satu-satunya Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur alam semesta. Kategori ini umumnya diakui bahkan oleh kaum musyrikin Makkah (Q.S. 31:25).
2. Tawhid al-Uluuhiyyah
Mengesakan Allah dalam ibadah - hanya Allah yang berhak disembah, tanpa perantara. Inilah kategori yang paling ditekankan para Nabi ﷺ, karena inilah yang diingkari kaum musyrikin meski mereka mengakui Ruboobiyyah.
3. Tawhid al-Asma wa-s-Sifaat
Mengesakan Allah dalam nama & sifat-Nya - menetapkan seluruh nama dan sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'til (meniadakan), takyif (menanyakan "bagaimana"), atau tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
Nabi ﷺ diutus untuk menegakkan Tawhid al-Uluuhiyyah - bukan Ruboobiyyah, karena kaum musyrikin Quraisy sendiri sudah mengakui Allah sebagai Pencipta. Pendekatan rasional/filosofis semata terhadap nama & sifat Allah tidak memadai karena akal manusia terbatas untuk memahami hakikat Dzat Allah - yang wajib adalah menerima apa yang dikabarkan wahyu (naql) sebagaimana adanya.
Istilah Kunci
- Ibadah: Mencakup dua hal - ketundukan (khudu') dan kecintaan (mahabbah) yang sempurna kepada Allah.
- Mitsaq (Perjanjian Adam): Perjanjian primordial yang Allah ambil dari seluruh keturunan Adam AS di alam ruh, mengakui Allah sebagai Rabb (Q.S. 7:172) - terjadi di 'Arafah/alam ruh sebelum kelahiran ke dunia.
- Fitrah: Naluri suci bawaan lahir yang cenderung mengenal & mengesakan Allah; orang tua/lingkunganlah yang dapat menyimpangkannya.
Syirik & Konsep Ibadah الشرك
Definisi Kunci
- Syirik: Menyekutukan sesuatu dengan Allah dalam hal yang menjadi kekhususan-Nya (ibadah, sifat rububiyyah, atau nama & sifat).
- Taghut: Segala sesuatu yang disembah/ditaati selain Allah dan ridha dengan itu - mencakup setan, dukun, thaghut penguasa yang berhukum bukan dengan syariat Allah.
- Riyaa': Beramal untuk dilihat/dipuji manusia (syirik kecil) - terbagi dua cabang: riyaa dalam ibadah itu sendiri, dan riyaa dalam niat beramal.
Islam tidak mengakui konsep karma (hukum sebab-akibat otomatis dari alam semesta). Segala yang menimpa manusia terjadi atas qadar (ketetapan) Allah semata - bukan hasil "energi alam" yang membalas otomatis. Meyakini karma sebagai kekuatan tersendiri di luar kehendak Allah dapat mengarah pada syirik.
Qadar (Ketetapan Allah) - 2 Jenis
Sesuai pembahasan Kitaab at-Tawheed, takdir Allah terbagi:
- Qadar Kauni (Universal): Ketetapan Allah yang pasti terjadi pada seluruh makhluk, baik ditaati maupun tidak (mis. kematian, rezeki).
- Qadar Syar'i (Legislatif): Perintah & larangan syariat yang Allah tetapkan, yang bisa ditaati atau dilanggar oleh manusia.
Takhayul, Jimat & Pertanda التمائم والتطير
Jimat / Tamaa'im
Memakai kalung, gelang, benang, atau benda lain dengan keyakinan dapat mencegah/menghilangkan bahaya (mis. 'ain/mata jahat) hukumnya syirik - karena menyandarkan perlindungan pada benda, bukan Allah. Ini berlaku pada jimat non-Qur'ani.
Jimat Qur'ani - Khilaf Ulama
Sebagian sahabat (mis. Ibn Mas'ud RA) melarang total jimat berisi ayat Al-Qur'an sebagai tindakan preventif (sadd adz-dzari'ah) agar tidak terjerumus ke jimat non-syar'i; sebagian ulama lain membolehkan dengan syarat tertentu. Pendapat yang lebih hati-hati (dan diajarkan di sini) adalah tidak menggunakannya.
Tiyarah (Pertanda Buruk)
Meyakini burung, angka (mis. angka 13), atau kejadian tertentu (mis. tumpah garam) sebagai pertanda sial adalah syirik, karena meyakini sesuatu selain Allah punya kendali atas nasib. Kafaratnya: mengucap doa "Allahumma laa khayra illaa khayruk, wa laa thayra illaa thayruk, wa laa ilaaha ghayruk" dan tetap melanjutkan aktivitas.
Sebagian besar sahabat Nabi ﷺ secara tegas menolak dan melarang jimat dalam bentuk apa pun, memahami hadits "Barangsiapa menggantungkan jimat, maka Allah tidak akan menyempurnakan urusannya" (HR. Ahmad) sebagai larangan umum & tegas.
Jin, Sihir & Perdukunan الجن والسحر
Fakta Tentang Jin
- Diciptakan dari api murni tanpa asap (Q.S. 55:15), sedangkan manusia dari tanah.
- Dinamai Jinn (tersembunyi) karena tidak terlihat mata telanjang manusia.
- Setiap manusia memiliki Qareen - jin pendamping yang senantiasa menggoda (bahkan Nabi ﷺ memiliki Qareen, namun beliau dibantu menaklukkannya - HR. Muslim).
- Jin memiliki jenis kelamin (jantan & betina) dan dapat berketurunan.
- Manusia tidak dapat mengendalikan jin sepenuhnya sesuai kehendaknya sendiri (bertentangan klaim pesulap/dukun); Nabi Sulaiman AS adalah pengecualian mukjizat khusus yang diberikan Allah (Q.S. 38:36-38).
- Iblis adalah bangsa Jin (Q.S. 18:50), bukan malaikat - ia diusir karena membangkang perintah sujud kepada Adam AS.
Sihir (Magic)
Istilah Arab: السحر (as-sihr). Islam mengakui realitas sihir - bukan sekadar ilusi (Nabi ﷺ sendiri pernah terkena sihir dari Labid bin al-A'sham, HR. Bukhari). Sihir umumnya melibatkan kerja sama dengan jin melalui kesyirikan (menyembah/memberi sesaji jin).
Hukum Sihir
Belajar & mempraktikkan sihir adalah kufur besar (Q.S. 2:102). Hukuman had bagi tukang sihir dalam banyak pendapat ulama adalah dibunuh (berdasarkan riwayat dari 'Umar RA dan sejumlah sahabat).
Dukun & Peramal
Mendatangi dukun/peramal dan mempercayai ucapannya adalah dosa besar - shalat tidak diterima 40 hari (HR. Muslim); jika sampai membenarkan ucapan gaibnya, jatuh pada kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.
Istirqaa' (meminta diruqyah) hukumnya boleh, sedangkan tingkatan tertinggi tawakal (golongan 70.000 yang masuk surga tanpa hisab) adalah yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan Tathayyur, dan tidak berobat dengan kai (cauterising/menempel besi panas) - meski kai sendiri secara hukum asal dibolehkan, bukan haram.
Astrologi (Tanjeem)
التنجيم - meyakini posisi bintang/planet memengaruhi nasib manusia. Berasal dari peradaban Babilonia kuno. Qatadah (tabi'in) membatasi kebolehan ilmu bintang hanya untuk penunjuk arah & waktu (navigasi, kalender) - bukan untuk meramal nasib.
Horoskop
Membaca/mempercayai ramalan horoskop hukumnya haram dan tergolong bentuk perdukunan modern - berlaku hukum yang sama dengan mendatangi dukun.
Ketinggian Allah - Al-'Uluw العلو
Salah satu topik terpenting dalam Tawhid al-Asma wa-s-Sifaat: keyakinan bahwa Allah berada tinggi di atas ciptaan-Nya (ber-istiwa di atas 'Arsy), bukan menyatu/berada di mana-mana secara dzat.
Dalil Naqli (Al-Uluw)
Banyak ayat menegaskan ketinggian Allah, di antaranya: "Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih), beristiwa di atas 'Arsy" (Q.S. 20:5), "Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik" (Q.S. 35:10). Hadits Mu'awiyah ibn al-Hakam as-Sulami dan budak perempuannya (HR. Muslim) - Nabi ﷺ bertanya "Di mana Allah?", budak itu menjawab "Di langit", Nabi ﷺ membenarkan & memerintahkan membebaskannya karena ia mukmin - menjadi salah satu dalil paling jelas dalam masalah ini.
Setiap manusia secara fitrah, saat berdoa dengan sungguh-sungguh atau ditimpa musibah, secara naluriah mengangkat tangan/pandangan ke atas - bukti bahwa fitrah manusia mengenal Allah berada tinggi di atas, bukan tersebar di segala arah/tempat.
Konsisten dengan Sifat Lain
Ketinggian Allah (di atas 'Arsy) tidak bertentangan dengan sifat-Nya yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan dekat (qariib) dengan hamba-Nya - Allah mengetahui & mengawasi seluruh makhluk-Nya tanpa perlu "berada di mana-mana" secara dzat. Ungkapan populer "Langit dan bumi tidak mampu menampung-Ku, namun hati hamba-Ku yang beriman mampu menampung-Ku" adalah hadits palsu (mawdu') yang sering disalahpahami untuk menolak al-'Uluw.
Kitab Rujukan
- Al-'Uluw lil-'Aliyyil-Ghaffaar karya Imam Adz-Dzahabi - mengumpulkan ratusan riwayat & kutipan ulama salaf yang menetapkan sifat ketinggian Allah, sebagai bantahan terhadap paham yang menafikannya.
Penyimpangan Sekte Seputar Sifat Allah
| Kelompok | Penyimpangan | Sebab Kemunculan |
|---|---|---|
| Mu'tazilah | Menolak/menakwilkan sebagian besar sifat Allah dengan pendekatan rasionalis berlebihan (ta'til) | Pengaruh filsafat Yunani & dialektika teologi Kristen saat ekspansi Islam ke Syam/Mesir |
| Jahmiyyah | Menafikan seluruh nama & sifat Allah secara ekstrem | Akar dari banyak penyimpangan sekte belakangan dalam masalah sifat |
| Asy'ariyyah | Menetapkan sebagian sifat namun menakwilkan sifat-sifat "khabariyyah" (seperti al-'Uluw, tangan Allah, dll.) | Reaksi moderat terhadap Mu'tazilah, didirikan Abul Hasan al-Asy'ari |
| Hulooliyyah & Itihaadiyyah | Meyakini Allah menyatu/menitis (hulool) atau menyatu-padu (itihaad) dengan makhluk tertentu | Paham sufi falsafi ekstrem, dianggap kufur oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah |
A. Mu'tazilah
- Didirikan Washil bin 'Atha' (w. 131H) di Bashrah, murid Hasan al-Bashri yang berpisah pendapat soal status pelaku dosa besar (manzilah bayna manzilatain).
- Berpegang pada 5 prinsip (al-usul al-khamsah): tauhid (dalam pengertian mereka yang menafikan sifat), keadilan Ilahi, janji-ancaman, posisi di antara dua posisi, amar makruf nahi mungkar.
- Sempat menjadi mazhab resmi negara pada masa Khalifah Al-Ma'mun, Al-Mu'tashim & Al-Watsiq (peristiwa mihnah - inkuisisi memaksa ulama mengakui Al-Qur'an makhluk, termasuk penahanan Imam Ahmad bin Hanbal).
- Argumen utama mereka: menetapkan sifat-sifat Allah secara literal akan berujung pada tasybih (penyerupaan dengan makhluk) - karenanya lebih aman dinafikan/ditakwil.
B. Asy'ariyyah
- Didirikan Abul Hasan al-Asy'ari (w. 324H), awalnya penganut Mu'tazilah selama +40 tahun sebelum bertaubat secara terbuka di masjid Bashrah.
- Menetapkan 7-20 sifat wajib bagi Allah (tergantung generasi mazhab) namun menakwilkan sifat "khabariyyah" seperti Yad (tangan), Wajh (wajah), dan Istiwa.
- Tokoh belakangan seperti Imam Al-Ghazali & Fakhruddin Ar-Razi memperdalam pendekatan filosofis mazhab ini.
- Ahlus Sunnah (mazhab salaf) mengkritik metode takwil ini sebagai inkonsisten - menetapkan sebagian sifat secara literal namun menakwil sebagian lain tanpa dalil yang membedakan keduanya.
C. Hulooliyyah & Itihaadiyyah
- Hulool: keyakinan Allah "menitis" ke dalam wujud tertentu (mirip inkarnasi) - tokoh yang diasosiasikan: Al-Hallaj (w. 309H), dieksekusi di Baghdad atas ucapan "Ana al-Haqq" (Akulah Kebenaran/Allah).
- Itihaad: keyakinan penyatuan total antara wujud Allah dengan wujud makhluk/alam semesta (wahdatul wujud) - diasosiasikan dengan Ibnu 'Arabi al-Andalusi (w. 638H) dalam sebagian karyanya.
- Ijma' ulama Ahlus Sunnah: kedua paham ini kufur akbar, karena menghapus batas jelas antara Khaliq (Pencipta) dan makhluq (ciptaan) yang menjadi inti Tawhid ar-Ruboobiyyah.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan seluruh nama & sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an & Sunnah tanpa tahrif (penyimpangan makna), ta'til (peniadaan), takyif (menanyakan bagaimana), maupun tamtsil (penyerupaan dengan makhluk) - inilah jalan tengah antara kelompok yang menafikan (Mu'tazilah/Jahmiyyah) dan yang menyerupakan Allah dengan makhluk (Musyabbihah). Kaidah induk: "Laisa kamitslihi syai'un wa Huwa as-Sami'ul Bashir" (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat - Q.S. 42:11) - menetapkan sekaligus mensucikan dalam satu ayat.
Tarekat Sufi yang Disebut dalam Silabus
Empat tarekat sufi populer yang dibahas sebagai konteks sejarah penyimpangan Hulool/Itihaad, masing-masing memiliki ajaran & praktik tersendiri seputar kedekatan dengan Allah melalui perantara syaikh/wali:
- Qadiriyyah: dinisbatkan pada Syaikh 'Abdul Qadir al-Jailani (w. 561H), salah satu tarekat sufi tertua & tersebar luas.
- Naqsyabandiyyah: dinisbatkan pada Baha'uddin Naqsyaband (w. 791H), menekankan dzikir dalam hati (sirr) tanpa suara.
- Tijaniyyah: didirikan Ahmad at-Tijani (w. 1230H) di Afrika Utara, dikenal dengan wirid Sholawat Fatih yang diklaim keutamaannya melebihi bacaan Al-Qur'an oleh sebagian pengikutnya - klaim yang ditolak keras ulama Ahlus Sunnah.
- Chistiyyah: tarekat tertua di anak benua India, dikenal lewat praktik sima' (mendengarkan musik/nyanyian spiritual) sebagai sarana kedekatan pada Allah.
Al-Mi'raj & Masalah Melihat Allah
Ringkas Al-Mi'raj
Perjalanan Nabi ﷺ naik ke langit ('uruj) setelah Al-Isra (perjalanan malam ke Al-Aqsa) - beliau dinaikkan melewati tujuh lapis langit, bertemu para nabi terdahulu, hingga menerima perintah shalat lima waktu langsung dari Allah tanpa perantara wahyu tertulis. Peristiwa ini menjadi salah satu bukti langsung ketinggian (al-'uluw) Allah - karena Nabi ﷺ "dinaikkan" ke arah atas, bukan berpindah ke segala arah.
Pendapat yang lebih kuat (berdasarkan hadits Aisyah RA, HR. Muslim): Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala saat Mi'raj - yang beliau lihat adalah cahaya (Nur)/tabir-Nya. Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya: "Aku melihat cahaya, bagaimana mungkin aku bisa melihat-Nya?!" Adapun ketika ditanya sahabat Abu Dzarr RA "Apakah engkau melihat Rabbmu?", Nabi ﷺ menjawab "Nur, bagaimana aku bisa melihat-Nya" (HR. Muslim) - mengisyaratkan hijab cahaya, bukan penglihatan langsung terhadap Dzat Allah.
Melihat Allah di Akhirat
Ahlus Sunnah sepakat: orang-orang beriman akan melihat Allah di Surga kelak (Q.S. 75:22-23, serta hadits mutawatir) - sebuah kenikmatan tertinggi yang tidak dimiliki penghuni neraka.
Nabi Musa AS & Permintaan Melihat Allah
Nabi Musa AS memohon melihat Allah (Q.S. 7:143) karena dorongan kerinduan yang kuat setelah berbicara langsung dengan-Nya (kalimullah); Allah menjawab "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku" dan menampakkan sedikit tajalli-Nya pada gunung hingga gunung itu hancur - menunjukkan keagungan Allah tak tertahankan di dunia fana ini.
Wali, Karamah & Keutamaan Manusia
Makna Wali
وَلِيّ - secara bahasa berarti "pendukung/pelindung dekat". Dalam Al-Qur'an dipakai untuk makna beragam: pelindung, penolong, atau orang beriman bertakwa yang dicintai Allah (Q.S. 10:62-63) - bukan gelar khusus dengan kekuatan supranatural sebagaimana disalahpahami dalam budaya populer.
Kita Tidak Boleh Mengklaim Kesucian
Islam melarang menyatakan/mengklaim seseorang pasti "wali/suci" secara pasti (tazkiyyah), karena hanya Allah yang mengetahui hakikat hati & akhir hidup seseorang (husnul/su'ul khotimah).
Karamah vs Mu'jizat
Mu'jizat = kejadian luar biasa khusus diberikan Allah kepada Nabi/Rasul sebagai bukti kenabian. Karamah = kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba shalih biasa (bukan Nabi) sebagai bentuk pertolongan/kemuliaan, bukan bukti kenabian.
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa" (Q.S. 49:13) - inilah satu-satunya ukuran keunggulan seorang muslim atas yang lain, bukan keturunan, kekayaan, atau klaim kewalian.
Kitaab at-Tawheed - Ringkasan 14 Bab
Ditulis oleh Syaikh Muhammad ibn 'Abdul-Wahhab (1703–1792 M, lahir di al-'Uyaynah, Najd), pendiri gerakan reformasi Tawhid yang bersekutu dengan keluarga Ibn Sa'ood - menjadi cikal-bakal Kerajaan Arab Saudi modern. Kitab ini adalah ringkasan dalil Al-Qur'an, hadits, dan atsar salaf tentang pemurnian Tawhid, dikomentari dalam edisi ini oleh Dr. Bilal Philips.
Bab 1–6: Fondasi Tawhid & Keutamaannya
- Bab 1 - Tawhid: Definisi & makna dasar mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta asma wa sifat.
- Bab 2 - Keutamaan Tawhid: Tawhid menghapuskan dosa besar & menjadi sebab utama masuk surga; sekecil apapun Tawhid dalam hati mencegah kekal di neraka.
- Bab 3 - Siapa yang Memurnikan Tawhid Masuk Surga Tanpa Hisab: Merujuk hadits 70.000 umat masuk surga tanpa hisab - ciri mereka: tidak minta diruqyah, tidak ber-Tathayyur (tiyarah), tidak berobat dengan kai, dan bertawakal penuh.
- Bab 4 - Takut Terhadap Syirik: Bahkan Nabi Ibrahim AS berdoa agar dijauhkan dari syirik (Q.S. 14:35) - menunjukkan tak seorang pun boleh merasa aman dari bahaya syirik.
- Bab 5 - Dakwah kepada Syahadat Laa ilaaha illallah: Inti dakwah seluruh Nabi & Rasul sejak Nuh AS hingga Muhammad ﷺ.
- Bab 6 - Penjelasan Tawhid & Makna Syahadat: Syahadat bukan sekadar ucapan lisan, tapi mengharuskan konsekuensi meninggalkan seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah.
Bab 7–9: Jimat, Ruqyah & Tabarruk yang Terlarang
- Bab 7 - Memakai Gelang/Benang untuk Mencegah Bala: Dihukumi syirik jika diyakini benda itu sendiri yang memberi manfaat/menolak mudarat.
- Bab 8 - Ruqyah & Jimat yang Mengandung Syirik: Ruqyah yang berisi permintaan kepada selain Allah (mantra syirik) haram; ruqyah syar'i (ayat Qur'an & doa Nabi ﷺ) diperbolehkan.
- Bab 9 - Mencari Berkah dari Pohon, Batu, atau Sejenisnya: Praktik tabarruk (mencari berkah) pada benda mati selain yang disyariatkan (seperti Hajar Aswad) adalah bentuk syirik - dicontohkan kisah sahabat yang meminta pohon "Dzaatu Anwaat" seperti kaum musyrikin, ditegur keras oleh Nabi ﷺ.
Bab 10–14: Sembelihan, Nadzar & Bentuk Syirik dalam Ibadah
- Bab 10 - Sembelihan untuk Selain Allah: Menyembelih dengan niat dipersembahkan kepada jin/kuburan/berhala adalah syirik akbar, meski lafaz "Bismillah" diucapkan.
- Bab 11 - Larangan Menyembelih untuk Allah di Tempat Sembelihan untuk Selain-Nya: Merujuk kisah Masjid Ad-Dhiraar (Q.S. 9:107-108) - sekalipun niatnya benar (untuk Allah), tempat yang identik dengan kesyirikan tetap harus dihindari (sadd adz-dzari'ah).
- Bab 12 - Bernadzar untuk Selain Allah adalah Syirik: Nadzar adalah ibadah, sehingga mengarahkannya kepada selain Allah termasuk syirik akbar.
- Bab 13 - Meminta Perlindungan kepada Selain Allah adalah Syirik: Isti'aadzah (meminta perlindungan) dari makhluk gaib/orang mati adalah syirik; berbeda dengan meminta perlindungan kepada makhluk hidup yang mampu (bukan ibadah).
- Bab 14 - Meminta Tolong/Memanggil Selain Allah adalah Syirik: Termasuk istighaatsah kepada orang mati/wali di kuburan. Dibedakan dari tawassul yang disyariatkan (berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, nama-Nya, atau doa orang shalih yang masih hidup).
Glosarium Istilah Penting
| Istilah | Arti |
|---|---|
| تَوْحِيد | Tawhid - mengesakan Allah (Rububiyyah, Uluhiyyah, Asma wa Sifat) |
| شِرْك | Syirik - menyekutukan Allah; terbagi syirik akbar (mengeluarkan dari Islam) & syirik asghar (dosa besar) |
| طَاغُوت | Taghut - segala yang disembah/ditaati selain Allah dan ridha dengannya |
| تَطَيُّر | Tiyarah - meyakini pertanda sial dari burung/kejadian/angka tertentu |
| اِسْتِرْقَاء | Istirqaa' - meminta untuk diruqyah |
| عُلُوّ | Al-'Uluw - ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya |
| حُلُول | Hulool - keyakinan sesat bahwa Allah menitis ke dalam makhluk |
| وَلِيّ | Wali - orang beriman bertakwa yang dicintai Allah |
| كَرَامَة | Karamah - kejadian luar biasa pada hamba shalih (bukan bukti kenabian) |
| تَبَرُّك | Tabarruk - mencari berkah; terlarang jika pada benda/tempat yang tidak disyariatkan |
| اِسْتِغَاثَة | Istighaatsah - memohon pertolongan; syirik jika ditujukan kepada makhluk gaib/orang mati |
| تَوَسُّل | Tawassul - berdoa kepada Allah melalui perantara yang disyariatkan (nama-Nya, amal shalih) |